Sabang, Aceh – Satu tahun perjalanan Gerakan Rakyat tidak dirayakan dengan pesta atau seremoni simbolik yang hampa substansi. Sebaliknya, momentum 21 Februari 2026 dijadikan titik refleksi dan penegasan arah perjuangan melalui aksi penanaman pohon di Kilometer Nol Indonesia, Sabang. Dari ujung barat Nusantara, sebuah pesan kuat digaungkan: masa depan Indonesia harus bertumpu pada keadilan lingkungan sebagai fondasi utama pembangunan.
Pilihan menanam pohon bukanlah keputusan tanpa makna. Di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim, kerusakan hutan, pencemaran laut, dan degradasi lahan, langkah sederhana ini menjadi simbol perlawanan terhadap pola pembangunan yang eksploitatif. Gerakan Rakyat ingin menunjukkan bahwa perjuangan membela rakyat tidak bisa dilepaskan dari upaya menjaga alam. Kesejahteraan sosial dan kelestarian lingkungan adalah dua sisi dari mata uang yang sama.
Ketua Umum Gerakan Rakyat, Sahrin Hamid, memimpin langsung kegiatan tersebut sebagai bentuk komitmen nyata. Ia menegaskan bahwa peringatan hari jadi bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan kesempatan untuk memperjelas sikap dan memperkuat visi. Menanam pohon di Kilometer Nol adalah pernyataan terbuka bahwa perubahan harus dimulai dari akar—dari kesadaran kolektif untuk menempatkan lingkungan sebagai prioritas dalam setiap kebijakan.
Kedatangan rombongan di Aceh melalui Bandara Sultan Iskandar Muda disambut oleh jajaran pimpinan wilayah dan daerah. Kebersamaan ini memperlihatkan bahwa isu ekologis bukan sekadar wacana pusat, tetapi telah menjadi agenda bersama hingga tingkat daerah. Konsolidasi organisasi dibangun di atas kesamaan visi bahwa Indonesia membutuhkan model pembangunan yang lebih adil dan berkelanjutan.
Perjalanan menuju Sabang dengan kapal cepat menyuguhkan pemandangan laut yang luas dan indah. Namun keindahan itu sekaligus menjadi pengingat akan rapuhnya ekosistem jika tidak dijaga dengan sungguh-sungguh. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki ketergantungan besar pada kesehatan lautnya. Kerusakan ekosistem pesisir tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga langsung memukul perekonomian nelayan dan masyarakat pesisir.
Setibanya di Kilometer Nol, penanaman pohon dilakukan secara simbolis bersama pimpinan wilayah dan daerah. Dalam pernyataannya, Sahrin menekankan bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab moral dan konstitusional. Melindungi seluruh tumpah darah Indonesia berarti memastikan bahwa tanah tetap subur, hutan tetap berdiri, sungai tetap bersih, dan laut tetap menjadi sumber kehidupan.
Sabang dipilih bukan sekadar karena posisinya sebagai titik paling barat Indonesia. Kota ini memiliki nilai historis dan spiritual yang kuat. Dari tempat inilah perjalanan geografis bangsa dimulai. Maka dari itu, menjadikan Sabang sebagai lokasi penegasan komitmen ekologis adalah simbol bahwa perubahan arah pembangunan harus dimulai dari titik awal, dari kesadaran paling mendasar tentang hubungan manusia dan alam.
Realitas Indonesia hari ini menunjukkan bahwa tantangan lingkungan semakin mendesak. Deforestasi terus terjadi, alih fungsi lahan mengancam ketahanan pangan, dan pencemaran menggerus kualitas hidup masyarakat. Dampak perubahan iklim semakin terasa melalui cuaca ekstrem, banjir, dan kekeringan. Ironisnya, kelompok masyarakat kecil seperti petani, nelayan, dan komunitas adat menjadi pihak yang paling merasakan beban kerusakan tersebut.
Gerakan Rakyat meyakini bahwa ketidakadilan ekologis akan selalu berujung pada ketidakadilan sosial. Ketika sumber daya alam dikelola tanpa prinsip keberlanjutan, keuntungan hanya dinikmati segelintir pihak, sementara kerugian ditanggung oleh rakyat luas. Inilah mengapa paradigma pembangunan harus diubah. Eksploitasi tidak boleh lagi menjadi dasar pertumbuhan ekonomi.
Organisasi ini mendorong tata kelola sumber daya alam yang transparan dan akuntabel. Pengelolaan hutan, tambang, dan sektor kelautan harus berpihak pada keberlanjutan dan kepentingan rakyat. Hak masyarakat adat atas ruang hidupnya harus dilindungi secara nyata. Lebih jauh lagi, percepatan transisi menuju ekonomi hijau harus menjadi agenda nasional agar pertumbuhan ekonomi selaras dengan kelestarian lingkungan.
Ekonomi hijau bukan sekadar konsep idealis, melainkan kebutuhan mendesak. Investasi pada energi terbarukan, pengurangan emisi, pengelolaan sampah yang berkelanjutan, serta penguatan sektor pertanian ramah lingkungan adalah langkah konkret yang harus diambil. Tanpa perubahan struktural ini, Indonesia berisiko menghadapi krisis ekologis yang semakin dalam dan sulit dipulihkan.
Aksi di Kilometer Nol Sabang juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan nasional yang sebelumnya dilakukan di berbagai wilayah Indonesia. Konsistensi ini menunjukkan bahwa komitmen terhadap keadilan lingkungan bukan agenda sesaat, melainkan strategi jangka panjang yang terus diperjuangkan.
Lebih dari sekadar kegiatan organisasi, penanaman pohon ini adalah ajakan terbuka kepada seluruh elemen bangsa. Pemerintah perlu merumuskan kebijakan yang berorientasi jangka panjang. Dunia usaha harus mengedepankan prinsip keberlanjutan. Masyarakat sipil perlu terus mengawal dan mengedukasi. Dan setiap individu memiliki peran melalui tindakan sederhana namun bermakna.
Pesan dari Sabang jelas dan tegas: pembangunan tidak boleh lagi mengorbankan lingkungan demi keuntungan jangka pendek. Indonesia membutuhkan arah baru yang menempatkan keadilan lingkungan sebagai pilar utama pembangunan nasional.
Satu tahun perjalanan Gerakan Rakyat menjadi momentum untuk memperkokoh komitmen tersebut. Penanaman pohon di Kilometer Nol bukanlah penutup perayaan, melainkan awal dari gerakan yang lebih luas. Seperti pohon yang akan tumbuh perlahan namun pasti, semangat keadilan ekologis diharapkan berakar kuat dalam kesadaran bangsa dan menjalar ke seluruh penjuru negeri. Dari Sabang, seruan itu menggema: saatnya membangun Indonesia yang adil, lestari, dan berkelanjutan—dimulai dari tindakan nyata hari ini.